Tentang Berbagi

Hidup adalah rangkaian perjumpaan. Setiap perjumpaan membawa pengalaman entah berupa pengetahuan, ketrampilan, kebijakan atau apapun itu. Semua adalah sebuah pembelajaran yang layak untuk dibagikan. Berbagi menunjuk pada hati yang penuh syukur. Syukur bukan hanya kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari kebajikan lainnya.(yoesthie_2000@yahoo.com)

SEKADAR KATA

Bagi beberapa orang, berpikiran negatif merupakan kebiasaan, yang sejalan dengan berlalunya waktu akan menjadi kecanduan. Seperti penyakit kecanduan alkohol, berlebihan makan, kecanduan obat terlarang. Banyak orang menderita akibat penyakit ini karena berpikiran negatif akan merusak tiga hal yaitu jiwa, tubuh dan perasaan.(Peter Mc Williams)

HIDUPPUN BERGANTUNG PADA ALAM

Gunung Empung adalah sedikit dari kawasan yang masih menyisakan hutan alami di Sulawesi Utara. Lansekapnya berupa daerah berbukit-bukit yang sangat beragam dari sedang-terjal-sangat terjal dan beragam pula formasi ekosistem yang membentuknya. Rasanya tak cukup waktu seharian untuk menguras kisah dibalik eksotika alam kawasan ini. Paduan aneka flora dan fauna serta kondisi bentang alamnya mengambarkan dinamika dan semangat masyarakat yang memanfaatkan kawasan ini untuk merajut kehidupan. 
Pakewa, nama hutan di Gunung Empung adalah lahan kehidupan bagi Blasius Polakitan atau biasa dikenal sebagai om Atik (57 thn) . Bapak 8 anak ini selama 35 tahun lebih dengan kaki telanjang setia menyusuri jalanan sempit berliku dan sesekali berada di bibir jurang untuk mencari Tompil (rotan jenis sedang) sebagai bahan kerajinan tangan masyarakat Kinilow.
Pekerjaan mencari rotan bagi om Atik dan puluhan warga lainnya, adalah warisan dari moyang mereka. “Pekerjaan inilah yang menopang kehidupan keluarga dan sekolah anak-anak” tukas kakek 5 cucu ini. Rotan tetap tumbuh dan tersedia karena para pencari rotan terus mengingat nasehat para tetua agar tidak sembarang memotongnya. “Potong yang benar-benar sudah siap untuk dipotong”, terang om Atik. “Orang tua dulu berpesan bahwa kalau ba potong inga itu anak-cucu”, katanya lebih lanjut.
Dan nyatanya meski bertahun-tahun terus diambil sampai sekarang Tompil masih gampang ditemui. “Dari dulu juga cuma disitu-situ saja, nyanda jauh masuk ke dalam”, paparnya. Namun seiring dengan waktu, sebenarnya mulai terlintas dalam benak om Atik untuk melakukan budidaya rotan di lahan perkebunan. “Sebenarnya itu rotan boleh ditanam, karena rotan bisa berbunga dan keluar buah untuk dibuat bibit; tapi memang jarang mo ketemu buah rotan itu”, katanya lebih lanjut. 
Membudidayakan rotan memang sudah saatnya untuk dipikirkan. Jika tidak maka makin lama kebutuhan para pengrajin tidak akan terpenuhi. Tapi om Atik tetap menyakini bahwasannya dengan mengikuti dan menghormati nasehat para tetua, maka alam akan tetap menyediakan apa yang dia butuhkan.
Bagi om Atik, hutan Pakewa tak sekedar menyediakan rotan tetapi juga aneka sayuran seperti sayur paku, koles dan rebung dan atau kebutuhan lauk pauk berupa tikus putih, kelelawar, kodok, udang dan lain-lain. Hutan tetap menyediakan berbagai hal, manakala kita tak kelewatan mengambilnya. “Dan ingat apa yang tidak boleh diambil baik karena nasehat para tetua atau aturan pemerintah ya harus dibiarkan saja, meski kita melihat atau menemuinya. Kalau torang ingin tetap mengambil hasil dari alam maka torang juga mesti menjaga kelestariannya”, pesan om Atik saat akhir perbincangan.

0 komentar:

Poskan Komentar