Tentang Berbagi

Hidup adalah rangkaian perjumpaan. Setiap perjumpaan membawa pengalaman entah berupa pengetahuan, ketrampilan, kebijakan atau apapun itu. Semua adalah sebuah pembelajaran yang layak untuk dibagikan. Berbagi menunjuk pada hati yang penuh syukur. Syukur bukan hanya kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan induk dari kebajikan lainnya.(yoesthie_2000@yahoo.com)

SEKADAR KATA

Bagi beberapa orang, berpikiran negatif merupakan kebiasaan, yang sejalan dengan berlalunya waktu akan menjadi kecanduan. Seperti penyakit kecanduan alkohol, berlebihan makan, kecanduan obat terlarang. Banyak orang menderita akibat penyakit ini karena berpikiran negatif akan merusak tiga hal yaitu jiwa, tubuh dan perasaan.(Peter Mc Williams)

LOM PLAI : Ritual Kecintaan Terhadap Long Diang Yun

Nun jauh disana, kira-kira 341 km dari Samarinda, pondok-pondok darurat (Naq Jengea) telah didirikan di pinggiran sungai Wehea. Pernak-pernik hiasan juga telah digantungkan di sekeliling kampong. Kain-kain aneka motif Wehea juga sudah menghiasi rumah-rumah. Le Ji Taq, seorang kepala adat menghabiskan waktu seharian di dapur membantu istrinya memasak lemang. Paulus Timang, sang panglima perang yang sejak remaja memimpin tarian perang dengan setia mempersiapkan baju dan topi yang dikenal sebagai tepa untuk dipakai dalam pentas seksiang. Hari itu penduduk Wehea benar-benar sibuk. Sebentar lagi mereka akan memulai acara Erau Padi atau Lom Plai.

Ketika persiapan telah selesai semua, sang ketua adat masuk ke dalam rumah adat (Eweang) untuk membunyikan gong dan gendang. Bebunyian itu (Ngesea Egung) menjadi pertanda bahwa ritual Erau Padi atau Lom Plai telah dimulai.

Asal Usul Padi
Masyarakat Dayak di pedesaan dalam kehidupan sehari-harinya tak bisa dipisahkan dengan olah tanam secara tradisional yang dikenal sebagai perladangan berpindah. Sistem yang dipakai adalah dengan cara rotasi (ulang alik) yang bertujuan untuk tetap menjaga kesuburan tanah. Akhir-akhir ini, terutama saat ‘musim kebakaran hutan’ cara perladangan seperti ini kerap dituduh sebagai biang kebakaran hutan dan merusak hutan.

Selain aktivitas perladangan, penanda penting yang melingkupi kehidupan masyarakat Dayak adalah cerita mitologi. Mitos bagi mereka merupakan dasar dan norma tingkah laku yang mengingatkan serta menegaskan bahwa eksistensi mereka tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Kepercayaan dan ketaatan pada apa yang terjadi sebagaimana diceritakan dalam mitos itu adalah bagian penting dalam lingkaran dan lingkungan kehidupan harian masyarakat Dayak.

Masyarakat Dayak Wehea, mengenal cerita tentang asal-usul padi. Kisahnya dimulai dari seorang yang bernama Diang Yung, seorang Hapui Ledoh (Pemimpin perempuan/ratu) yang mempunyai putri tunggal nan cantik jelita bernama Long Diang Yun. Pada masa pemerintahannya terjadi paceklik, kekeringan panjang sehinga banyak warganya meninggal dunia. Di sela tidurnya Sang Hapui bermimpi didatangi oleh Dohton Tenyei (Yang Maha Kuasa), yang memintanya untuk mengorbankan putri semata wayangnya jika ingin menyelamatkan kehidupan warganya. Saat terjaga dari tidurnya dalam hati Sang Hapui terjadi peperangan antara keinginan menyelamatkan masyarakatnya dan mempertahankan kehidupan putri tunggalnya yang sekaligus adalah penerus keturunannya. Dalam pertemuan dengan para tua-tua adat dan pemuka masyarakat diambil kesimpulan bahwa masyarakatlah yang harus diselamatkan.

Seluruh warga masyarakat dan para petinggi akhirnya berkumpul di alun-alun dan kemudian , Hapui Diang Yung menyembelih (mengorbankan) sang Putri Long Diang Yung yang sebelumnya didahului oleh sumpah dari seluruh masyarakat yang berbunyi :

• Manusia harus menyayangi padi seperti ia (sang hapui) menyayangi anaknya dan jangan bertindak kasar / durhaka terhadapnya.
• Padi adalah jelmaan anak Sang Hapui karena itu harus di Eraukan seperti Sang hapui melakukannya.
• Bagi orang yang memiliki padi dan menikmatinya serta taat kepada sumpah maka ia akan selamat, panjang umur, sejahtera dan makmur.
• Bagi yang melanggar sumpah maka ia akan celaka, ketulahan dan akan menderita sakit dan tidak panjang umur.

Segera setelah pengorbanan dilaksanakan suasana berubah menjadi gelap, awan hitam (mendung) menyelimuti daerah itu dan tak lama kemudian turun hujan yang sangat lebar. Timbulah keanehan dan keajaiban di tempat dimana sang putri dikorbankan. Disitu tumbuh serumpun padi yang terus meninggi hinggal mengeluarkan bulir-bulir yang menguning. Padi yang merupakan jelmaan dari sang putri ini akhirnya dinamakan Padi Ling Diang Yung, padi kemudian dituai dan terus dituai namun tidak pernah habis-habisnya sehingga seluruh masyarakat bisa mendapat bagian. Sejak saat itu dengan dikorbankannya sang putri yang kemudian menjelma menjadi padi masyarakat perlahan-lahan bisa membangun kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya.

Kepercayaan yang begitu mendalam terhadap mitos ini terus dipertahankan oleh masyarakat Dayak Wehea dalam ritual Lom Plai atau Erau padi. Rangkaian ritual dalam Erau Padi ini dimaksudkan sebagai simbol rasa syukur kepada Putri Long Diang Yung yang kini dipercaya sebagai Dewi Padi.

Erau Padi Dayak Wehea
Suku Dayak Wehea, mempercayai bahwa mereka adalah suku Dayak pertama yang menginjakkan kaki di Borneo saat nenek moyang mereka bermigrasi dari China. Awalnya mereka hidup di daerah pesisir dan mencari penghidupan sebagai nelayan. Ketika terjadi migrasi kelompok suku lain ke Borneo mereka mulai terdesak hingga kemudian tersisih masuk dalam hutan (menjadi orang hulu), dengan demikian pola hidup mereka berubah karena mereka menjadi lebih dekat dengan kehidupan hutan dan sungai. Tatangan alam menempa baik fisik dan psikis mereka hingga akhirnya Suku Dayak dikenal sebagai suku yang berani dan trampil berperang, ahli berburu dan gemar berladang (tani). Suku Dayak Wehea adalah kelompok Dayak yang hidup di daerah aliran sungai Wahau atau kemudian sering diucapkan menjadi Wehea. Mereka kini tinggal di enam desa yang ada di kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur.

Salah satu hal yang paling diingat oleh masyarakat luar Dayak dari orang Dayak adalah budaya mengayau. Dalam adat Dayak Wehea dikenal ritual Erau Kepala (Namlen). Ritual ini mengharuskan orang Wehea untuk mencari tumbal yaitu kepala musuh yang kalah dalam pertarungan. Pasukan kecil biasanya dibentuk untuk mencari musuh atau orang dari suku Dayak lainnya yang kemudian diburu untuk dipakai sebagai tumbal. Budaya mengayau atau memenggal kepala musuh untuk dipakai sebagai tumbal akhirnya hilang atau dilarang.

Era perburuan dan perang sudah berakhir, kegiatan bertani atau berladang akhirnya menjadi kegiatan yang sangat penting dan hampir memenuhi aktivitas keseharian mereka. Ritual yang berkaitan dengan pertanian menjadi ritual yang terus menerus dilakukan dan bertahan hingga sekarang. Lom Plai atau Erau padi adalah salah satunya. Lom diterjemahkan dari kata Erau, mengandung dua pengertian yakni mengantisipasi agar tidak sakit, selamat dan panjang umur, atau suatu usaha penyembuhan terhadap orang sakit.
Tujuan dari ritual yang biasa dilakukan setelah masa panen berakhir ini adalah agar masyarakat sehat, selamat, dan panjang umur, serta supaya pada musim tanam berikutnya, padi dan tanaman lain yang dibudidayakan oleh masyarakat terhindar dari hama dan penyakit, dan juga mendapatkan hujan yang cukup sehingga padi dan tanaman lainnya dapat tumbuh dengan subur serta memberikan hasil yang berlimpah kepada masyarakat. Ritual Lom Plai sendiri terdiri atas 17 rangkaian acara yang bisa berlangsung selama satu bulan.

Erau Lom Plai dimulai dengan memukul gong atau Ngesea Egung dan diakhiri dengan nyanyian doa untuk mengusir segala yang jahat dan mendoakan datangnya kehidupan yang lebih baik bersamaan dengan terbenamnya matahari atau Embos Epaq Plai.

Keramaian erau padi atau lom plai ditandai dengan tebaran api unggun di halaman dan jalanan depan pemukiman yang dipakai untuk membakar lemang. Lemang dimasak oleh kaum perempuan sementara pria menyiapkan pakaian perang dan topeng hudoq. Membakar lemang merupakan bagian dari acara penghormatan terhadap padi. Selain lemang perempuan Wehea juga membuat beangbit, sejenis kue yang terbuat dari campuran tepung beras dan gula merah yang juga dimasak dalam bambu.

Bunyi gong yang dipukul (Ngesea Egung) menjadi tanda dimulainya erau padi (lom Plai). Kaum laki-laki dengan seluruh perlengkapannya bersiap untuk menarikan tari Seksiang. Sementara itu kaum perempuan melakukan kegiatan lain yang disebut Embosmin yaitu sebuah ritual untuk pembersihan desa. Mereka berjalan keliling desa sambil membawa dupa dan mengucap berbagai matra dan doa agar desa mereka bersih dari gangguan segala roh jahat dan berbagai bentuk malapetaka. Siapapun yang ketahuan berjalan semaunya dalam ritual ini akan dikenakan denda adat.

Di tepian sungai keramaian memuncak, sebelum acara ini warga akan mendirikan pondok darurat (naq jengea) untuk beristirahat dan menyaksikan acara yang berlangsung disana. Sungai yang merupakan urat nadi kehidupan Suku Wehea karena disana tempat mereka mencari ikan dan menghayutkan rotan telah dipenuhi oleh perahu-perahu yang mengangkut warga yang berpakaian adat lengkap, membawa sumpit, mandau dan tameng. Di sungai akan dilakukan ritual seksiang. Penumpang perahu akan menepi dan mengambil rumput gajah, untuk dipakai sebagai tombak dan sumpit dengan anak sumpitnya butiran tanah liat. Ritual seksiang adalah pendramaan kembali adegan perang di jaman dahulu yang dilakukan diatas air atau dalam sungai dengan memakai perlengkapan perang berupa tombak Weheang yang ujungnya tumpul. Peserta ritual ini dengan perahu melakukan perang-perangan yang rutenya dari hulu ke hilir kampung. Para peserta yang terdiri dari dua kelompok saling ’tembak menembak’ sambil menjalankan perahu. Untuk memanaskan suasana kedua kelompok akan saling mengejek dalam bahasa Wehea sehingga emosi menjadi terpancing.

Ritual ini sangat ramai, keadaan di tengah sungai sungguh seru, seringkali ada perahu yang terbalik karena awaknya kena tombak. Penonton yang memadati pinggiran sungai juga tak kalah hebohnya, mereka terus berteriak dengan antusias untuk memberi semangat kepada teman-teman mereka. Seksiang ini merupakan gambaran dari suasana perang di jaman dahulu. Meski namanya perang, namun tetap ada aturan yang tidak tertulis yang tetap dihormati. Dalam perang dilarang memukul lawan yang sudah jatuh dan tidak berdaya. Perang juga dimulai dari kedatangan raja dari suku lain kepada suku yang hendak dikuasainya dengan cara meminta secara santun. Apabila tidak terjadi kesepakatan maka kemudian jalan kekerasan atau perang baru ditempuh.

Kunci dari ritual Seksiang ini adalah keseimbangan, sebab siapa yang dinyatakan kalah adalah mereka yang terjatuh dan perahunya terbalik. Mereka ini kemudian menjadi tawanan, namun bisa bebas apabila keluarganya menebus yaitu dengan memberikan lemang.

Setelah kampong dinyatakan “bersih “ dari roh jahat yang ditandai dengan selesainya barisan perempuan yang berkeliling kampong dan perang-perangan (seksiang) akan dilakukan siram-siraman. Seorang perempuan dewasa (Peknai) akan melakukan penyiraman kepada Tua Adat (Mengsaq Pang Tung Eleang – seorang tua adat disiram oleh gadis). Penyiraman ini melambangkan rumpun padi akan mendapat air yang cukup dengan datangnya musim hujan. Setelah itu warga akan saling menyiram. Mereka akan saling kejar, siapapun yang belum terkena akan terus diburu bahkan sampai di dalam kamar sekalipun. Kegiatan terus berlanjut dengan dilakukan beberapa acara lagi, seperti Nelha La (menggantung rumput), Entuem Pang Tung Eleang (menerobos ujung titian), Ngesea Egung (memegang rumput yang telah digantung), Laq Gues (mengambil tawanan), dimana dalam acara ini warga saling mencoreng arang atau abu pembakaran. Mereka melakukan ini dengan harapan ladang akan terbakar sempurna tanpa merusak hutan. Dan tanah mereka menjadi subur seperti arang. Ini berarti padi akan tumbuh subur diladang mereka. Ada pula acara makan bersama dengan menu yang beragam. Mulai dari lemang, ikan gabus, ikan patin, daging babi, dan berbagai sayuran yang disajikan di setiap rumah..

Puncak atau akhir dari perayaan Lom Plai adalah tarian Hudoq. Sebuah tarian yang dipercaya sebagai tarian memanggil jin yang akan membantu mereka menjaga kesuburan tanahnya. Kaum laki-laki akan menyiapkan pakaian untuk tarian ini. Setiap satu set baju tarian hudog dibutuhkan kurang lebih lima batang pohon pisang. Selain baju dari pohon pisang mereka juga akan memakai topeng yang berwujud muka binatang (topeng Hudoq Tonggup). Semua warga berkumpul di lapangan luas yang letaknya di pinggiran kampung. Tarian Hudoq selain dipercaya mendatangkan jin yang membantu kesuburan tanaman juga diyakini dapat menyembuhkan penyakit. Suku dayak Wehea meyakini tarian ini adalah tarian memanggil jin yang akan membantu menyuburkan tanaman. Tarian ini juga mereka yakini dapat menyembuhkan penyakit.

Tarian akan didahului dengan percikan darah segar oleh Panglima adat ke seluruh peserta penari. Tujuannya agar tidak ada yang menganggu jalannya prosesi. Jin yang dipanggil akan datang dari dalam tanah, air dan kahyangan. Penari akan menari dalam formasi mengelilingi lapangan dan perlahan gerakan mereka sudah mulai hilang kesadarannya. Tarian ini berlangsung ber-jam – jam sehingga membutuhkan kekuatan fisik yang prima, dimana dalam kondisi normal, orang akan sulit melakukannya.Bila hujan tidak turun, tarian ini barangkali akan berakhir hingga malam. Namun air hujan adalah pertanda baik, artinya ratu penguasa padi atau putri Long Dyang yung telah menerima persembahan mereka. Malam harinya, diadakan tarian Tumbambataq, Jiak Keleng, Ngewai dan Enluei untuk menghibur warga.

Seluruh rangkaian acara Lom Plai pun ditutup dengan prosesi Embos Epaq Plai yakni membuang hampa padi. Dalam bagian ini semua masyarakat berjalan menuju ke bagian hulu kampung dan secara perlahan berjalan ke arah hilir kampung dengan menyanyikan Doa. Setelah itu kampung kembali senyap, nyannyian dendang kidung Dayak Wehea yang disebut Nluei dalam nada tinggi, merintih dan tempo lambat tak terdengar lagi. Nluei adalah kidung penting yang mengiringi berbagai acara adat Wehea, tanpanya acara adat tak akan berlangsung dengan hikmad.

Wehea Menantang Perubahan
Erau padi sebagai manifestasi tradisi yang dimiliki oleh Suku Dayak Wehea sebenarnya merupakan sebuah pesan dan pelajaran soal bagaimana berhubungan, menghargai dan melindungi alam juga kehidupan. Dibalik upacara itu sesungguhnya tersimpan sebuah sistem pengetahuan dan kebijaksanaan yang telah teruji selama berabad-abad lamanya.

Namun waktu tidak sekedar hadir sebagai penanda pagi, siang dan malam sebab dalam pusarannya selalu terkandung sebuah perubahan yang bisa jadi membawa sebuah harapan yang mengembirakan tapi sekaligus juga sejuta kekhawatiran. Pak Ledjie, kepala adat suku Wehea di Desa Nehas Liah Biang mengatakan, upacara adat seperti Lom Plai ini secara perlahan sudah mulai tidak populer lagi di masyarakat dan terancam punah. "Kondisi ini terjadi bukan karena tidak adanya regenerasi, tetapi lebih karena aturan adat yang membatasi adanya prosesi yang tidak boleh diketahui sembarang orang terutama kaum muda. Jadi ya, tidak ada regenerasi," katanya. Namun terbukanya pilihan pekerjaan atau pencaharian di luar pertanian dan hutan juga turut membuat ikatan batin terhadap upacara adat semakin menurun. Mempertahankan adat dan kebudayaan serta lingkungan tempat tumbuh kembangnya juga bukan sebuah usaha yang gampang.

Sampai hari ini komunitas yang mengenal 30 varietas padi ini masih mampu menjaga kawasan hutan adat mereka. Adalah Ladjie Taq, kepala adat suku Wehea, bersama beberapa tokoh adat Wehea lainnya yang menetapkan aturan itu sejak tahun 2005. Dengan itu, hutan seluas 38.000 hektare yang terletak di Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur, tersebut resmi menjadi kawasan hutan lindung yang dijaga secara adat oleh masyarakat Dayak Wehea. Kawasan ini menyimpan tiga daerah tangkapan air di Seleq, Melinyiu, dan Sekung, yang bermuara di Sungai Mahakam. Maka adalah sangat beralasan jika masyarakat Wehea menjaga dengan teguh kawasan ini. Sebab kebanyakan orang Wehea masih menggantungkan hidup dari berladang. Mereka mengambil air untuk berladang dari Sungai Wehea yang bersumber dari mata air di hutan. Hutan adalah benteng dari bencana, sebab di musim hujan hutan menjadi daerah resapan air, sehingga sungai tak meluap menenggelamkan ladang dan desa.
Karena itu, kata Ladjie, hutan tak boleh dirusak. Warga Wehea hanya boleh memanfaatkan hutan secara terbatas. "Tak boleh sembarangan agar kekayaannya tetap lestari," ujar Ladjie. Pembatasan ini dituangkan dalam sebuah peraturan adat Nomor 01 Tahun 2005. Dalam peraturan adat itu diatur antara lain larangan menebang pohon untuk keperluan pribadi atau diperjualbelikan. Warga juga dilarang membuka lahan untuk kebun, ladang, atau peruntukan lain di kawasan hutan lindung. Selain itu, hewan dalam kawasan hutan tidak boleh diburu. Pohon boleh ditebang untuk keperluan pembangunan fasilitas umum, semisal balai desa. Hasil hutan lain non-kayu, seperti damar, rotan, buah-buahan, dan gaharu, juga boleh dimanfaatkan. Untuk hewan, babi hutan masih diperbolehkan diburu. Tapi semua itu baru bisa dilakukan setelah ada izin dari perangkat pemerintahan desa dan Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea.

Siapapun yang melanggar aturan ini akan disidang secara adat. Hukumannya biasanya mengganti sesuai nilai pohon, hewan, atau kekayaan hutan lain yang diambil tanpa izin atau di luar yang ditentukan. "Misalnya, diizinkan berburu dua ekor babi tapi yang dibunuh tiga ekor, maka dia dihukum secara adat mengganti senilai seekor babi yang dibunuh di luar ketentuan," kata Ladjie. Jika keputusan adat tak tercapai, kepala adat akan membawa kasus itu ke aparat penegak hukum.

Masyarakat Wehea juga membentuk semacam kelompok patroli penjaga hutan yang disebut Petquq Mehuey. Kelompok ini terdiri dari 30 orang, bertugas mengawasi segenap areal hutan. Mereka dipilih setiap tiga tahun sekali, dan para anggotanya hanya bisa menduduki masa jabatan itu paling banyak dua periode.

Namun meski peraturan adat telah ditetapkan dan kelembagaan pendukungnya telah dibuat kekhawatiran masih tetap saja menyelimuti benak warga Wehea. Mereka tetap khawatir tidak bisa menjaga hutan dari kemungkinan masuknya investor untuk melakukan eksploitasi. Pasalnya status hutan lindung belum mendapat penetapan resmi dari negara (Departemen Kehutanan). "Kalau suatu saat ada perusahaan besar yang mengantongi izin dari pusat untuk membuka hutan Wehea, kami tak bisa berbuat apa-apa," tutur Ladjie.

Memang pemerintah kabupaten dan propinsi mendukung upaya masyarakat adat Wehea ini, namun apakah negara mengakui otonomi adat atas sebuah kawasan. Itu yang masih terus jadi persoalan. Dadang Imam Gozali dari Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea menyatakan bahwa pihaknya sudah beberapa kali berkirim surat untuk meminta penetapan resmi kawasan Wehea sebagai hutan lindung dari Dephut, tapi tak juga ada tanggapan. Tanpa berburuk sangka, Dadang sempat mencurigai terkatung-katungnya status kawasan Wehea sebagai sebuah kesengajaan. Sebab konon di dalam kawasan ini terkandung kekayaan mineral berupa batubara. "Pernah ada tim dari ESDM meneliti dan menemukan batu bara kalori rendah," kata Dadang. Diperkirakan potensinya mencapai 10 juta metrik ton.

"Hutan adalah masa depan kami, untuk anak-cucu. Kalau hutan hancur, generasi kami juga hancur," kata Hatsong, tetua suku Dayak Ga'ai yang menghuni kawasan Lesan yang bersebelahan dengan kawasan suku Wehea. Tentu yang dimaksud dengan generasi bukan sekedar orangnya tetapi juga system pengetahuan, adat, kebudayaan dan kebijaksanaan yang telah dibangun turun temurun. Jika hutan hancur, maka besar kemungkinan kita tak akan lagi menyaksikan Lom Plai yang penuh makna dan kekhusyukkan. Jadi sesungguhnya hutan itu milik siapa?.

0 komentar:

Poskan Komentar